Type

blogs

Issue

Urban food systems

Di Simpang Seribu Iftar #2: Ruang yang Tunduk pada Semarak

Nayaka Angger
Fri, 29 Jul 2022

4 min read

Tulisan ini adalah penggalan kedua dari seri blog Di Simpang Seribu Iftar yang merupakan bagian dari riset Urban Climate Foodprint atas dukungan IDRC dan Oak Foundation melalui inisiatif Think Climate Indonesia.


Selama Ramadan, perut manusia mampu merangkap fungsi jadi penanda waktu. Bagi seseorang yang berpuasa, pukul 17.30, misalnya, bisa ditandai oleh redupnya langit sore, bisa juga oleh nyeri lambung. Bunyi-bunyian keroncong perut, sebagai contoh lain, dapat dijadikan alternatif notifikasi azan magrib ketika menantikan waktu berbuka. 

Nyeri dan bunyi tersebut kemudian urun daya dalam melepaskan semacam sinyal yang mendorong manusia berperilaku tertentu menjelang petang. Berbagai laku yang teramati mencakup, di antaranya, pekerja kantor yang diam-diam menutup laptop, ribuan pedagang yang berangsur merakit lapak, serta orang-orang yang misuh dalam kemacetan sambil tabah menahan lapar. 

Lawatan singkat Kota Kita ke jalan-jalan di Jakarta dan Solo pada April lalu mempersaksikan bukan hanya dinamika pangan yang berkenaan dengan pasar seperti kelangkaan stok atau fluktuasi harga komoditas, melainkan juga sebuah semarak kultural yang tampak punya andil dalam menjahit pola-pola khas pada ruang kota. Orang-orang mulai tergesa pulang untuk berbuka dengan keluarga di rumah, sebagian mampir ke warung terdekat bersama kolega, yang lain lagi ramai-ramai berkumpul di kediaman sahabat. Ruang yang biasanya hampa disulap jadi arena warga: trotoar jadi pasar takjil, beranda masjid jadi dapur umum, pos jaga kompleks jadi bilik bertandang, dan gang sempit jadi tempat ngabuburit.
 

 

Silaturahmi Sana Sini

Penceramah di televisi sering bilang: Puasa bukan hanya tentang menahan haus dan lapar. Sepakat. Puasa juga tentang berubahnya hidup dan ruang hidup.

Selain perut, hal lain yang diuji dan dirawat ketika berpuasa adalah silaturahmi. Umat muslim, khususnya, didorong untuk menjalin ulang tali persahabatan dan persaudaraan yang banyak usang tergerus kerja, cicilan, serta tanggung jawab hidup lainnya. Gaya silaturahmi bermacam-macam, tetapi ada beberapa bentuk yang lazim teramati selama Ramadan, yakni kegiatan berbuka puasa bersama atau bukber, berkirim hampers atau bingkisan, dan bersedekah kepada yang dianggap membutuhkan. 

Berbagai kegiatan silaturahmi tersebut meresap ke serat-serat kehidupan sosial warga dan memberi corak tersendiri pada dinamika keruangan kota. Keramaian menjelang waktu berbuka salah satunya disebabkan oleh banyaknya warga yang hendak bukber dan ngabuburit. Beberapa orang yang ditemui di lokasi observasi studi mengaku datang ke sana dengan orang lain atau nantinya akan berkumpul dengan teman dan saudara di tempat lain. Sekitar 76,1% responden kuesioner juga menyatakan pernah bukber setidaknya satu hingga lima kali selama bulan puasa. Dua responden bahkan pernah bukber ke luar rumah hingga lebih dari dua puluh kali!

Infografis yang menunjukkan bahwa buka puasa bersama menjadi bagian dari budaya khas Ramadan yang diikuti semua orang, baik yang menjalankan puasa maupun yang tidak. Menurut survei kami, 88.9% dari responden yang tidak menjalankan ibadah puasa pernah mengikuti buka bersama.
Tendensi untuk berkumpul bersama dan merayakan pertemuan dengan makan-minum ini menyemai bibit kemeriahan yang rentan menjalar ke penjuru kota. Restoran, mal, bazar, pujasera, sentra PKL, kedai, dan masjid merupakan tempat-tempat yang ramai dituju warga untuk ritual buka bersama (kadang sekalian reuni TK). Maraknya gerombolan bukber ini mendorong para aktor penyedia pangan untuk menyesuaikan diri. Aneka ragam penyesuaian ini akan dibahas pada bagian selanjutnya, namun yang kentara terpampang di ruang publik adalah proliferasi pedagang yang membeludak dan memenuhi sudut-sudut kota. 

Ada tempat yang ramai, ada juga yang kurang ramai—yang sepi jarang sekali. Datang atau tidaknya pengunjung diduga dipengaruhi oleh fasilitas dari suatu lokasi. Untuk bisa bukber dengan lancar, tempat parkir, musala, kamar mandi, serta kursi-meja adalah fitur yang wajib diprioritaskan. Untuk mengakomodasi warga yang mengakses lokasi dengan motor dan mobil pribadi, banyak pusat takjil terobservasi memiliki fasilitas tempat parkir, baik yang resmi maupun liar, yang existing maupun tactical. Tempat salat dan kamar mandi memadai diperlukan untuk menunjang iftar yang afdal. Begitu pula dengan meja-kursi atau tempat duduk yang bisa menampung kelompok besar dengan tata letak yang memungkinkan interaksi. Selain itu, keanekaragaman pilihan jajanan plus adanya atraksi tertentu juga menjadi faktor yang menarik atensi pengunjung.

Banyak lokasi yang dikonfigurasi ulang agar mampu mengakomodasi gelombang calon konsumen ini. Masjid Istiqlal di Jakarta, misalnya, membuka halamannya untuk diisi banyak pedagang untuk memudahkan jemaahnya memperoleh takjil setelah salat magrib. Pedagang di Stasiun Gondangdia menyediakan jajanan yang siap dibawa untuk para penglaju yang terburu-buru mengejar kereta dan harus berbuka di perjalanan. Trotoar dan jalan di sekitar kawasan Kebon Kacang mendadak didandani jadi spot parkir ala kadarnya, lengkap dengan fasilitas perlindungan helm dengan plastik kresek jika hujan. Di Solo, di jalan depan Pasar Gedhe, ratusan lampion dipasang di sepanjang jalan menghiasi pergelaran pusat takjil yang diselenggarakan oleh kelurahan setempat. Orang-orang datang untuk berbuka sekaligus mengalami suasana festival di sana. 

Semarak yang luput terbendung ini justru menyuntikkan energi yang mengaktivasi banyak ruang secara spontan, mendatangkan beragam pengguna dengan varia aktivitas. Namun, suasana menggempita kota ketika Ramadan tak lepas dari elemen yang, meski dianggap liar dan kerap dipinggirkan, justru menjadi akar yang menghidupkan kota.

 

Penulis:

Nayaka Angger, Asih Radhianitya, Rizqa Hidayani

 

Peneliti:

(Jakarta) Nayaka Angger, Asih Radhianitya, Wulandari Anindya Kana, Fildzah Husna, Vanesha Manuturi, Gregorius Jasson, Adinda Angelica

(Solo) Rizqa Hidayani, Ahmad Rifai, Kirana Putri Prastika, Bisma Setyadi, Nisita Pradipta, Asri Septarizky