Type

blogs

Issue

Urban food systems

Di Simpang Seribu Iftar #1: Ramadan dalam Dinamika Pangan dan Warga

Nayaka Angger
Wed, 27 Jul 2022

7 min read

Tulisan ini adalah penggalan pertama dari seri blog Di Simpang Seribu Iftar yang merupakan bagian dari riset Urban Climate Foodprint atas dukungan IDRC dan Oak Foundation melalui inisiatif Think Climate Indonesia.


Kalau dihitung kasar, diperkirakan 68,4% warga Jakarta dan 68,8% warga Solo termasuk ke dalam kategori muslim berusia lebih dari 15 tahun¹.

Hitungan tersebut boleh jadi hambar, terutama pada waktu-waktu biasa atau jika luput dilekatkan pada konteks tertentu. Namun, ada cara lain menafsirkannya: bahwa hampir tujuh dari sepuluh warga Jakarta dan Solo diasumsikan telah menginjak usia akil balig dan diwajibkan berpuasa ketika Ramadan tiba². Atau, tujuh dari sepuluh orang di seantero kota berhenti mengonsumsi makanan dan minuman selama tiga belas jam setiap harinya selama satu bulan penuh. 

Meski tidak sepenuhnya akurat dan sarat pengandaian, kalkulasi di atas rasanya memadai untuk mengestimasi seberapa signifikan dampak Ramadan terhadap sebuah kota. Sebab, ketika sebanyak itu orang mengurungkan niat untuk sarapan bubur, makan siang di warteg, atau jajan kopi sore, mungkinkah kota tetap bergeming?
 

 

Ramadan dan Kota Kita

Pangan dan warga telah menjadi ketertarikan Kota Kita sejak lama. Melalui butir-butir aktivitas di program lain atau lewat jalan sore selepas kerja, kami kadang menyisihkan fokus untuk sekadar mengamati fenomena: ingar-bingar pasar menjelang pagi, obrolan warga di tenda angkringan, para ibu yang bersepeda pergi belanja, atau menjamurnya kedai kopi di jalan belakang kantor. Melalui amatan-amatan singkat ini, kami memahami dua hal, yakni bahwa kota tak lepas dari manusia di dalamnya dan manusia tak akan lepas dari makanannya. Maka, pangan seyogianya mengandung bukan hanya nutrisi, tetapi juga cukup daya yang mampu menggerakkan gerigi keseharian urban. 

Pada paruh akhir tahun 2021, Kota Kita mendapatkan kesempatan untuk memulai perjalanannya menjelajahi lika-liku sistem pangan perkotaan sebagai bagian dari agenda riset krisis iklim yang merentang selama tiga tahun. Dari senarai panjang ihwal pangan yang ada di menu studi, Ramadan menjadi salah satu yang menggugah untuk ditelaah—atau dinikmati, jika bisa—terlebih dahulu. Maka pada April lalu, Kota Kita melakukan penelitian kecil di Jakarta dan Solo untuk coba menangkap serta memahami pengaruh fenomena Ramadan terhadap lanskap ruang urban. 

Salah satu observasi utama yang melatarbelakangi studi ini adalah bagaimana kota menjadi tempat yang sama sekali berbeda ketika Ramadan tiba. Di banyak lokasi, pedagang takjil dan banyak penyedia pangan musiman lainnya hadir mengisi celah-celah kota. Bak semut pada gula, warga pun berhamburan menghampiri tempat-tempat ini menjelang petang untuk menikmati santap iftar bersama dengan kerabat atau handai tolan. Dalam hal ini, belum diketahui mana yang gula dan mana yang semut, atau apakah metafora tersebut bahkan tepat disandingkan. Jika ditilik pada taraf individu, teramati adanya perubahan perilaku pangan sebagai buah adaptasi terhadap dinamika yang muncul ketika Ramadan tiba, baik semisal akibat ritual berpuasa itu sendiri, fluktuasi harga komoditas di pasar, ataupun anjuran silaturahmi bagi umat muslim. Secara umum, kami menduga terjadi alterasi pada dinamika interaksi antara ruang, warga, dan pangan di kota selama Ramadan. Dugaan tersebut kemudian melahirkan dua pertanyaan utama yang hendak ditelisik:

1. Bagaimana perilaku pangan warga berubah selama Ramadan? 

2. Bagaimana pangan dan ruang urban berinteraksi selama Ramadan? 

 

Jakarta dan Solo dipilih menjadi lokasi studi, selain karena statusnya sebagai kota basis kami, juga karena kultur pangan warganya yang kaya, tetapi berbeda dalam caranya tersendiri. Nuansa ini mencakup laku sosial, ragam kuliner, hingga karakteristik sektor informalnya. Untuk bisa menangkap berbagai fenomena urban Ramadan tersebut, Kota Kita melakukan dua pendekatan metodologi. Yang pertama adalah melalui kuesioner yang kami sebarkan secara daring untuk mengetahui berbagai perubahan perilaku serta kultur pangan yang mereka alami pada diri dan lingkungannya. Kuesioner ini diisi oleh lebih dari 200 orang dari sebelas provinsi berbeda, mencakup juga segelintir (18 orang atau 8,8%) yang tidak berpuasa. Pendekatan kedua adalah melalui observasi langsung ke lokasi-lokasi publik yang menjadi pusat kegiatan Ramadan di Jakarta dan Solo. Observasi ini terutama difokuskan pada sentra-sentra takjil dan aktivitas berbuka puasa, dibarengi juga dengan wawancara singkat kepada warga yang ada di sana. Dalam rentang tiga minggu, tim Kota Kita, dibantu oleh Kolektif Agora, melawat ke belasan lokasi di Jakarta dan Solo, mewawancarai sejumlah pedagang, pengunjung, dan pengelola tempat ibadah.

Sebuah kumpulan foto yang diambil selama riset mengenai perilaku pangan warga kota Solo dan Jakarta selama bulan Ramadan.

Lewat studi ini, Kota Kita menapis beberapa temuan yang mungkin berharga untuk dijadikan perspektif pelengkap dalam memahami dinamika kota selama Ramadan. Beberapa yang substansial di antaranya terangkum ke dalam tiga topik, yakni perilaku pangan, konfigurasi ruang, dan informalitas kota. 

 

Warga Berpuasa, Kota Bersalin Rupa

Bagi yang melaksanakan puasa, perubahan pola makan dan minum dalam keseharian hampir menjadi keniscayaan. Bergesernya sarapan, makan siang, dan makan malam menjadi sahur dan iftar tentu menuntut penyesuaian rutinitas dan ritme beraktivitas, terutama yang berkaitan dengan pangan. 

Salah satu penyesuaian tersebut adalah bagaimana warga memperoleh pangan ketika sahur dan berbuka. Ketika sahur, memasak dan mempersiapkan makanan sendiri menjadi pilihan utama dalam memperoleh santapan bagi, mengingat keadaan di luar ruang ketika dini hari kurang kondusif untuk bepergian dan mencari tempat makan yang buka—meskipun jumlahnya tampak meningkat selama Ramadan. Sedangkan pilihan cara berbuka puasa sedikit banyak mirip dengan pilihan cara makan malam di waktu-waktu biasa. Perbedaan utamanya adalah tendensi yang kentara untuk menikmati momen berbuka sekaligus penantiannya bersama dengan orang terdekat, atau yang biasa dikenal dengan kegiatan buka bersama. Fenomena ini akan lebih diuraikan lebih jelas pada bagian tulisan yang lain.

Infografis dari pertanyaan survei 'Bagaimana biasanya warga kota memperoleh makanan saat puasa Ramadan?'. Jawaban dari pertanyaan ini adalah kebanyakan orang memasak makanannya sendiri, baik itu ketika sahur maupun berbuka.

Sejumlah responden juga mengaku mengalami perubahan perilaku pangan. Perilaku yang dimaksud ini mencakup, di antaranya, lebih sedikit minum air dalam sehari, lebih jarang makan sayur dan minum kopi, serta lebih sering mengonsumsi penganan manis. Bahkan, beberapa orang yang tidak berpuasa mengaku ikut mengalami perubahan perilaku pangan, seperti berkurangnya intensitas makan serta kecenderungan menghindari makan di tempat umum. Temuan ini senada dengan argumentasi di awal bahwa proporsi umat muslim yang besar pada sebuah kota memiliki peluang untuk memengaruhi fungsi kerja kota ketika Ramadan, termasuk keseharian warga yang tidak berpuasa.

Selain perilaku, preferensi pangan warga juga teramati mengalami pergeseran selama Ramadan. Hal ini tampak pada kemiripan jenis-jenis dagangan pangan yang ada di pusat-pusat takjil, dipenuhi dengan menu-menu musiman yang mengemuka saban tahun. Untuk meneguhkan hipotesis atas fenomena ini, hasil survei menunjukkan tendensi responden terhadap sekelumit jenis makanan tertentu ketika ditanya mengenai pangan favorit Ramadan. Beberapa menu kegemaran tersebut mencakup minuman manis dingin seperti sop buah dan es kelapa, dibarengi kudapan semacam gorengan, martabak, dan kurma. Memang tak bisa dimungkiri bahwa es kelapa dan tahu isi adalah teman baik dahaga pada lima menit menyongsong magrib. Di samping jajanan, beberapa hidangan khas lebaran seperti opor ayam, ketupat, serta kue-kue toples sejenis nastar atau kaasstengels juga cukup sering disebut. Menarik bahwa perubahan ini terjadi hampir secara serentak, tanpa aba-aba. Kami menduga hal ini terjadi akibat bentukan kultur-kultur pangan dari banyak kebudayaan, dikombinasikan dengan upaya pasar dalam membentuk preferensi konsumen (dan sebaliknya), yang terakumulasi selama bertahun-tahun.

Perubahan perilaku pangan ini juga kemudian memengaruhi beberapa hal pada aspek ekonomi. Secara umum, Ramadan memiliki reputasi menggoyang-goyangkan keadaan pasar di waktu kedatangannya. Pada tahun 2022 ini, tercatat setidaknya tujuh komoditas pangan, di antaranya cabai, daging sapi, dan minyak goreng, yang mengalami kenaikan harga bahkan dua minggu sebelum memasuki bulan puasa³. Kenaikan permintaan—salah satunya akibat perubahan preferensi pangan—yang tidak diiringi dengan kesiapan suplai ditengarai menjadi salah satu penyebabnya⁴, diperparah dengan antusiasme penduduk Indonesia yang sudah dua tahun terkungkung pandemi. Jika menilik pada skala perseorangan, kenaikan harga tadi selaras dengan pengakuan mayoritas responden (39,7%) yang mengaku mengalami kenaikan pengeluaran pangan, beberapa bahkan mencapai hingga 50% lebih banyak dari bulan biasa. Kenaikan pengeluaran tersebut diatribusikan kepada dua penyebab utama, yakni meningkatnya frekuensi membeli makanan dari luar serta kenaikan harga pangan. Meskipun begitu, sejumlah responden (23,5%) mengaku mengalami justru penurunan pengeluaran terutama disebabkan oleh frekuensi makan dan minum yang berkurang akibat berpuasa; selaras dengan kemestian menahan diri di bulan suci.

Lalu, apa dampak dari perubahan-perubahan tadi terhadap kota? Pada aras individu, perubahan-perubahan di atas mungkin kurang bermakna, terlebih dalam sistem kerja kota nan raya dan rumit. Namun, jika ditilik dari skala lebih besar, akumulasi perubahan pola perilaku tersebut dapat menggoreskan dampak signifikan yang bisa memengaruhi dinamika pangan di sebuah daerah, memaksa banyak aktor dan komponen dalam sistemnya untuk beradaptasi, dan mengubah keseharian warga dalam memperoleh asupan nutrisi. 

Berkurangnya intensitas ngopi dan bergesernya jam makan siang, misalnya, punya kekuatan—via mekanisme pasar maupun tekanan sosial—untuk mendorong kedai dan warteg sekitar menyesuaikan waktu operasional serta volume belanja hariannya. Perubahan preferensi pangan yang dibahas sebelumnya juga termanifestasikan pada berbagai nuansa yang terasa di seantero kota, semisal menjamurnya pedagang kaki lima yang merespons selera musiman khas Ramadan.

Namun, lawatan singkat ke jalan-jalan di Jakarta dan Solo mempersaksikan bukan hanya dinamika pangan yang berkenaan dengan fluktuasi harga dan takjil favorit, melainkan juga sebuah semarak kultural yang punya andil besar dalam menjahit pola-pola khas pada ruang kota. 

 

Penulis:

Nayaka Angger, Asih Radhianitya, Rizqa Hidayani

 

Peneliti:

(Jakarta) Nayaka Angger, Asih Radhianitya, Wulandari Anindya Kana, Fildzah Husna, Vanesha Manuturi, Gregorius Jasson, Adinda Angelica

(Solo) Rizqa Hidayani, Ahmad Rifai, Kirana Putri Prastika, Bisma Setyadi, Nisita Pradipta, Asri Septarizky

 

Catatan Kaki

1. Pada tahun 2021, 88,5% penduduk DKI Jakarta tercatat sebagai pemeluk agama Islam. Jika persentase tersebut diproporsikan terhadap jumlah penduduk berdasarkan usia, diperkirakan terdapat sekitar 68,4% warga ibu kota yang masuk dalam kategori Muslim berusia di atas 14 tahun—usia yang diasumsikan telah akil balig dan diwajibkan berpuasa. Di Kota Solo, sebagai perbandingan, 68,8% penduduknya pada tahun 2020 juga masuk dalam kategori yang sama. 
[Jakarta dalam Angka 2021, BPS 2022], [Surakarta dalam Angka 2021, BPS 2021]

2. WorldPopulationReview.com. Muslim Population by Country 2022.

3. KOMPAS.com. Jelang Ramadhan. Hampir Seluruh Komoditas Pangan Mengalami Kenaikan Harga.

4. Center for Indonesian Policy Studies. Kenapa Harga Pangan Selalu Naik Jelang Lebaran? | Ep. 1 Bu Makmur Bertanya. (Video)