Type

blogs

Scope of Work

Action Research

Issue

Urban Housing, Climate Crisis

Yang Tinggal Bersama Hawa Panas, Yang Tak Kuasa Mengubahnya

Kota Kita Contributor
Tue, 23 Jun 2026

10 min red

Oleh Adinan Rizfauzi dan Aprisia Rasya Murran

Di sebelah rumah dua lantai warna merah muda dengan pot-pot bunga yang digantung rapi di terasnya, seorang pria paruh baya tampak sibuk membersihkan kipas angin. Kaus birunya ia lepaskan dan diletakkan begitu saja di atas paving, menyaru dengan jalanan kampung yang jadi tempat warga mondar-mandir. "Panas kalau ndak pakai kipas, Mas," katanya sambil memasang besi penutup baling-baling yang baru saja ia bersihkan pada Sabtu, 4 April 2026.

Di tengah hawa panas, kipas angin menjadi pilihan yang paling sederhana bagi banyak warga Kampung Kalicilik, Kota Semarang. Dibandingkan alat pendingin lain seperti air conditioner (AC), kipas angin jauh lebih murah dan sederhana. Untuk urusan perawatan misalnya, ketika mereka yang memasang AC mesti memanggil seorang teknisi secara berkala, pemilik kipas angin bisa saja langsung mengutak-atik sendiri kipas seperti yang dilakukan bapak-bapak paruh baya itu. 

"Jadi masang alat, Mas?" Pertanyaan itu memecah keheningan ketika saya sedang memperhatikan si Bapak yang masih sibuk memutar-mutar obeng di tangannya. Tampaknya, ia sudah mengetahui maksud kedatangan saya dan beberapa rekan yang sejak tadi menggerombol di rumah sebelah.

Kedatangan kami memang untuk urusan pasang-memasang. Bukan memasang AC, melainkan seperangkat alat pengukur suhu dan kelembapan ruangan bernama thermohygrometer (ThermoPro)  dan data logger. Alat-alat itu menjadi bagian dari penelitian Beyond Housing Types (Be-Housing), sebuah yang mencoba menyelisik bagaimana panas bekerja dan bertahan di hunian.

Be-Housing merupakan bagian dari program Climate Adaptation and Resilience (CLARE) ASEAN yang melibatkan sejumlah lembaga di berbagai kota dan negara. Selain Kota Kita yang melakukan penelitian di Kota Semarang, Be-Housing juga digarap oleh Rujak Center for Urban Studies di Jakarta, Arkom Indonesia di Surabaya, serta Universiti Kebangsaan Malaysia di Selangor. Di Kota Semarang, Kota Kita melakukan pengumpulan data di dua tempat, yaitu di Kampung Kalicilik dan Rusunawa Kaligawe. 

"Tadinya mau dipasang di rumah saya. Tapi rumah saya bocor kalau hujan," kata Bapak itu sambil menunjuk ke arah rumahnya yang hanya berjarak selemparan batu dengan rumah Bu Ika (34), rumah berlantai dua warna merah muda tempat kami memasang alat.

Rumah Bu Ika terbilang lebih luas dibanding beberapa rumah lain di Kampung Kalicilik yang kami datangi hari itu. Di lantai satu yang beralaskan keramik putih, berbagai perangkat dan alat masak terlihat jelas dari sofa yang diletakkan di sebelah pintu masuk. 

Kipas angin yang menempel di dinding, tepat di atas sofa, sudah berputar sejak kami datang. Jendela berbingkai kayu berwarna putih pun terbuka dari bagian atas. Celah itulah yang siang itu menjadi jalan bagi udara luar untuk masuk ke dalam rumah, selain pintu yang dibiarkan terbuka lebar-lebar.

Panas yang Mengendap pada Material Bangunan

Beda dengan ThermoPro, data logger memiliki bentuk yang sedikit lebih kompleks. Kabel-kabel menjulur dari alat itu menuju berbagai titik di dalam rumah. Namun, di balik bentuknya yang tak sederhana, data logger memiliki keistimewaan: mampu mendeteksi dan merekam panas yang tersimpan pada material bangunan. Sensor-sensornya yang terhubung lewat kabel dapat ditempelkan pada lantai, dinding, hingga sekitar koridor. 

Sementara itu, ThermoPro yang berbentuk persegi dengan ukuran kurang dari sejengkal mengandalkan komponen elektronik internal untuk memantau suhu dan kelembapan udara di dalam ruangan. Bentuknya yang sederhana membuat alat ini mudah dibawa dan dipantau, bahkan oleh mereka yang masih awam. Sementara untuk mengukur suhu dan kelembaban di luar ruangan, ada alat bernama personal weather station (PWS) yang terpasang di rooftop Rusunawa Kaligawe.

Temuan awal penelitian menunjukkan suhu di dalam ruangan cenderung lebih stagnan dibanding suhu di luar ruangan yang terus naik dan turun mengikuti pergantian siang dan malam maupun perubahan cuaca. Temuan ini muncul setelah tim peneliti memasang masing-masing empat data logger dan ThermoPro di Kampung Kalicilik. Salah satu penyebabnya adalah material bangunan seperti dinding dan lantai yang menyerap panas pada siang hari, lalu melepaskannya kembali secara perlahan saat malam. Akibatnya, suhu di dalam rumah tetap tinggi meski udara di luar mulai mendingin, bahkan saat malam hari.

Sementara itu, kipas angin yang selama ini menjadi andalan banyak warga sebenarnya tidak membuat ruangan menjadi lebih dingin. Embusan udara pada kipas sebenarnya hanya membantu mempercepat penguapan keringat (evaporasi) sehingga tubuh terasa lebih nyaman. Alih-alih menurunkan suhu ruangan, penggunaan kipas angin juga malah memindahkan dan menyebarkan panas ke tempat lain. Karena itulah, meski kipas angin di ruang tamu Bu Ika menyala hampir sepanjang hari, panas di dalam ruangannya tetap bertahan. 

“Kalau aktivitas jadi keringetan, lebih sering haus. Di dapur itu pas masak panas, Mbak” kata Bu Ika saat diwawancarai salah satu enumerator kami.

Mirip dengan yang terjadi di rumah Bu Ika, tempat tinggal Bu Titik (62) juga tidak lepas dari hawa panas. Bu Titik tinggal di rumah satu lantai yang ruangannya disekat menjadi kamar dan dapur. Ruangan ini dulunya adalah bagian dari rumah dengan beberapa ruangan. Setelah anaknya menikah, ia memilih tinggal di ruangan tersendiri, lepas dari rumah utama yang letaknya persis di sebelahnya. Kini, rumah itu ditinggali oleh anak dan cucunya.

Sama seperti Bu Ika, Bu Titik juga hampir selalu menyalakan kipas angin. Saat saya dan tim peneliti datang ke rumahnya, kipas angin hitam berdiameter sekitar 20 sentimeter tampak berputar kencang di sudut kamar. “Selama ada orang di rumah pokoknya nyala terus, nggak ada mati-mati,” tutur Bu Titik.

Namun, lagi-lagi, keberadaan kipas angin tidak menjamin suhu jadi turun. Meskipun kecepatan angin di dalam ruangan Bu Titik berada di angka 0,38 m/s, saat salah satu enumerator mengukur kondisi di dalam rumah menggunakan alat hot wire anemometer, suhu ruangannya masih tercatat mencapai 36 derajat Celcius. Angka ini jauh melampaui rata-rata suhu harian luar ruangan di Kota Semarang yang terekam alat PWS, yaitu sebesar 28,7 derajat Celsius. 

Salah satu faktor yang diduga membuat tingginya suhu ruangan dan sekitar rumah Bu Titik adalah material atap yang dipakai. Bagian rumah dan teras rumah Bu Titik yang awalnya genteng tanah liat kini telah diganti dengan atap asbes. Material ini memengaruhi cara bangunan menyerap, menyimpan, dan melepaskan panas ke lingkungan sekitarnya. Kata Bu Titik, perbedaan jenis atap ini dirasakan betul oleh cucunya dengan lebih memilih tidur di kamar rumah sebelah yang beratap genteng. 

“Kalau libur, dia di rumah sebelah sini (menunjuk rumah yang ditinggali anaknya). Itu kan agak adem. Soalnya kan atapnya genteng, yang sini kan asbes,” ucap Bu Titik.

Beban Itu Lebih Banyak Menimpa Perempuan 

Meski harus berhadapan dengan hawa panas saban hari, perempuan seperti Bu Ika dan Bu Titik tidak memiliki banyak pilihan untuk menjauh dari kondisi tersebut. Pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, mengurus rumah, hingga merawat anak membuat mereka menghabiskan lebih banyak waktu di dalam rumah dibanding anggota keluarga lainnya. Artinya, mereka juga menjadi kelompok yang lebih lama terpapar panas yang terperangkap di dalam rumah. 

Saat saya dan tim peneliti datang ke rumahnya, Bu Ika hanya ditemani anak-anaknya. Suaminya sedang bekerja di luar rumah untuk memastikan dapur keluarganya tetap mengepul. Situasi serupa juga terlihat pada Bu Titik. Meski sehari-hari bekerja bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), faktor usia membuatnya tetap lebih rentan terhadap tekanan panas dibanding kelompok usia yang lebih muda.

Sayangnya, meski lebih banyak terpapar panas, perempuan seperti Bu Ika dan Bu Titik tidak selalu memiliki keleluasaan untuk mengambil keputusan mengenai upaya mengurangi panas di rumah, misalnya dengan memasang pendingin ruangan atau melakukan renovasi bangunan. Pola yang demikian juga secara konsisten dialami oleh enam narasumber lain dari Kampung Kalicilik. Dalam urusan renovasi rumah, selain ada kendala finansial, inisiatif juga bertabrakan dengan terbatasnya lahan. 

Temuan serupa juga muncul di Rusunawa Kaligawe, meski melalui cara yang berbeda. Sebab, perempuan di Rusunawa Kaligawe, selain juga merasakan apa yang dirasakan perempuan di Kampung Kalicilik, juga menghadapi hambatan struktural. Mereka tidak leluasa memodifikasi unit hunian lantaran terbentur aturan pengelola. Akibatnya, penghuni rusunawa, terutama perempuan yang lebih banyak beraktivitas di dalam rumah, harus beradaptasi dengan panas yang ada tanpa punya banyak kesempatan untuk mengubahnya. 

Usaha warga untuk keluar dari hawa panas bukannya tidak ada. Di Kampung Kalicilik, misalnya, sebuah ruang komunal diciptakan untuk meredakan panas yang mengepung kampung. Beberapa kipas angin dipasang di sebuah rumah panggung yang dimiliki salah seorang warga. Di titik lain, ada sebuah gazebo milik warga yang kerap dimanfaatkan secara bersama untuk berteduh. Sayangnya, karena terbatasnya tempat, upaya-upaya demikian belum banyak dilakukan di Rusunawa Kaligawe.

Pada akhirnya, panas bukan semata-mata persoalan cuaca atau temperatur. Ia juga berkaitan dengan material bangunan, kondisi kesehatan, serta relasi kuasa yang menentukan siapa yang dapat mengubah ruang tempat tinggalnya dan siapa yang harus terus beradaptasi dengan keadaan yang ada.