Type

blogs

Scope of Work

Civic Education & Empowerment

Issue

Surakarta Space Shapers, Inclusive Public Space, Co-Design, Child-led Advocacy and Campaign

Surakarta Space Shapers: Merancang Ruang Publik yang Inklusif bersama Anak

Rendy Manggalaputra
Tue, 30 Dec 2025

5 min read

oleh Rendy Manggalaputra dan Melania Alvianti Sumaryata

Surakarta menjadi salah satu kota yang ditunjuk sebagai pilot proyek pengembangan model Kota Layak Anak (KLA) pada tahun 2006. Progresnya mewujud dalam rupa pembangunan Taman Anak Cerdas (TAC) sebagai salah satu bentuk implementasinya. Pemerintah Kota Surakarta mula-mula meresmikan 3 TAC di Kelurahan Kadipiro, Kelurahan Sumber, dan Kelurahan Joyotakan pada tahun 2008. Setahun kemudian, 3 TAC baru di Kelurahan Mojosongo, Kelurahan Gandekan, dan Kelurahan Pajang menyusul diresmikan. 

Pemerintah Kota Surakarta terbilang aktif menunaikan kewajiban membangun taman sebagai sarana bermain dan belajar bagi anak-anak. Terhitung hingga tahun 2023, sebanyak 14 TAC telah tersebar di beberapa wilayah Kota Surakarta. Meski begitu, bilangan angka saja belum cukup untuk mengklaim kebijakan yang sangkil, sebab anak memiliki beragam kebutuhan spesifik sebagai kelompok rentan. Di samping itu, jumlah anak umur 0 - 19 tahun tahun di kota Surakarta juga terus meningkat, mencapai 143.827 jiwa pada tahun 2024.

Kini, satu pertanyaan relevan, perlu untuk terus menguar: soal seberapa jauh keterlibatan anak-anak direspons dengan signifikan dalam proses kebijakan terkait perancangan ruang publik kota yang inklusif? Hal ini penting untuk merawat refleksi atas pemenuhan hak anak dan berhenti berlanggan pada paradigma tunggal milik orang dewasa, agar pembangunan fasilitas kota tidak berisiko menyimpang dari kebutuhan, keamanan, dan kenyamanan anak-anak.

Sepenggal Catatan tentang Kota Layak Anak di Surakarta

Beberapa analisis seperti dalam penelitian terkait Taman Kota Banjarsari sebagai Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) pernah mengindikasikan bahwa taman kota di Surakarta cukup mendekati ruang publik ramah anak yang ideal. Komitmen Pemerintah Kota Surakarta dalam menjalankan program Kota Layak Anak (KLA) juga tampak membuahkan hasil. Sejak tahun 2017, Kota Surakarta berhasil menyabet predikat KLA Kategori Utama sebanyak enam kali. 

Meski begitu, penelitian lainnya masih menunjukkan bahwa beberapa prinsip penting seperti partisipasi anak, non-diskriminasi, keamanan, dan kesehatan belum sepenuhnya terpenuhi di setiap tahapan proses kebijakan. Taman Cerdas Jebres, misalnya, meskipun terlihat baik, tetapi implementasi fasilitas fisik dan standar ruang bermain ramah anak masih membutuhkan peningkatan. Dalam proses pembangunan, Pokja Kelurahan Jebres juga perlu waktu hingga tujuh tahun lamanya sampai akhirnya Taman Cerdas Soekarno-Hatta resmi berdiri pada tahun 2013 di belakang lahan Solo Techno Park (STP). 

Sepenggal catatan di atas terhitung penting sebagai penanda untuk memaksimalkan metode partisipatif dalam menjawab tantangan dan komitmen membangun ruang publik yang inklusif di perkotaan. Merancang taman yang sesuai dengan kebutuhan anak dan kelompok rentan memang bukan perkara mudah, tetapi cita-cita itu tidaklah muskil jika setiap keputusan diupayakan lahir dari proses kebijakan yang inklusif.

Surakarta Space Shapers

Berangkat dari semangat inklusivitas, Kota Kita bersama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB)  berkomitmen mendukung Kota Surakarta yang ramah anak lewat program Surakarta Space Shapers. Sejak bulan Maret tahun 2025, program ini berjalan di lima kelurahan percontohan—Jebres, Sumber, Karangasem, Mojo dan Joyotakan— dengan melibatkan 26 anak berumur 13 - 18 tahun dari Forum Anak Kota dan Forum Anak Kelurahan, serta 50 anak berumur 10 - 18 tahun dari masing-masing kelurahan. Inisiatif ini mendapatkan rekognisi pada Intercultural Innovation Hub (IIH) yang didukung oleh UNAOC, BMW Group dan Accenture.

Upaya ini dipantik dari realitas anak-anak yang dihadapkan pada keterbatasan akses ke ruang bermain di mana ruang publik masih belum dapat memenuhi kebutuhan anak. Akibatnya banyak anak-anak terpaksa bermain di jalanan dan meningkatkan risiko keselamatan mereka. Di tengah kerentanan tersebut, suara anak-anak juga belum banyak tertuang dalam pengambilan keputusan terkait perencanaan ruang publik di perkotaan. 

Karenanya, Surakarta Space Shapers hadir untuk mengajak anak-anak menjadi pemimpin kota masa depan dengan memperkuat kapasitasnya sebagai pembentuk ruang (space shapers). Mereka terlibat aktif dalam mengungkapkan kebutuhan, ide, dan aspirasi; bahkan soal pengalaman dan perasaan terhadap ruang kota; termasuk pengembangan fasilitas di taman tingkat kelurahan. Surakarta Space Shapers juga hadir sebagai ruang berbagi pengetahuan dengan anak-anak di lingkungan sekitar lewat proses mendengar, bercerita, dan berkolaborasi untuk mengimajinasikan ruang publik yang inklusif.

Proses pemahaman tentang inklusivitas berlangsung dari dekat melalui refleksi pengalaman dan kegiatan yang menyenangkan untuk anak-anak. Dalam sesi pelatihan, space shapers sebagai representatif Forum Anak Kota dan Forum Anak Kelurahan dibekali dengan kemampuan untuk memahami ruang publik melalui Tur Berjalan Kaki yang dipimpin anak-anak dan Co-Design menggunakan Magnetic Playspace Kit. Anak-anak space shapers kemudian mengimplementasi bekal mereka di lokakarya sebaya dengan memimpin dan memfasilitasi pembelajaran partisipatif kepada teman sebaya di masing-masing kelurahan. Melalui cara ini, anak-anak perlahan membangun rasa percaya diri dalam berkomunikasi, yang pada akhirnya mendorong mereka menjadi lebih aktif dan berani menyampaikan aspirasi. 

Imelda, partisipan dari Kelurahan Mojo, memberikan refleksinya, “aku memilih pohon pisang untuk menggambarkan perasaanku setelah mengikuti pelatihan Co-Design. Pohon pisang itu dari daun, bunga, buah, bahkan batangnya dapat diolah dan menghasilkan manfaat; sama halnya dengan pelatihan ini. Kami merasa lebih berdaya setelah ikut dalam proses mengamati dan mendesain kembali taman cerdas sesuai impian. Aku jadi lebih tahu kebutuhan kelompok rentan seperti ubin taktil, rampa kursi roda, hingga papan petunjuk dengan huruf braille.”

Alvino, partisipan dari Kelurahan Karangasem, juga menyampaikan, “kegiatan Surakarta Space Shapers menambah banyak wawasan. Kami belajar lewat aktivitas bermain, berkeliling taman, dan mengutarakan pendapat. Semoga ke depannya taman di Kota Surakarta dapat mengakomodasi kebutuhan difabel dan mewujudkan taman dengan berbagai permainan menarik yang aman dan nyaman untuk anak-anak.”

Sebagai subjek yang memiliki kuriositas tinggi, tentunya anak-anak memiliki bahasa mereka sendiri untuk menyuarakan kepentingannya, utamanya menyoal kebutuhan terkait ruang publik seperti taman. Karenanya, perjalanan mereka berlanjut ke persiapan kegiatan serupa kampanye, aktivasi ruang, dan proses advokasi kebijakan yang dipimpin oleh anak-anak. Kota Kita membersamai para pembentuk ruang dalam untuk merumuskan rencana aksi kolektif yang kreatif-interaktif untuk menjelang puncak kegiatan Surakarta Space Shapers. Simak perjalanan selanjutnya melalui artikel Merekah dari Dekat: Urun Aksi Warga Muda.

 

Referensi

Lazuardini, A  D , & Nurhasan, N  (2023)  “Analisa Taman Kota Banjarsari sebagai Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA)”  Prosiding SIAR Seminar Ilmiah Arsitektur 

Yuliani, S  (2023)  Model Collaborative Governance Untuk Pengembangan Partisipasi Aktif Forum Anak Dalam Pembangunan Ruang Publik Ramah Anak di Kota Surakarta  Universitas Sebelas Maret Surakarta