Type
blogs
Scope of Work
Civic Education & Empowerment
Issue
Surakarta Space Shapers, Inclusive Public Space, Co-Design, Child-led Advocacy and Campaign
6 min read
oleh Rendy Manggalaputra dan Melania Alvianti Sumaryata
Perjalanan kolektif Surakarta Space Shapers berlanjut merekah lewat kampanye Urun Aksi Rasa (UAR) Warga Muda yang dipimpin anak-anak untuk menyuarakan hasil belajar bersama selama sembilan bulan; utamanya soal merancang taman ramah anak melalui proses yang partisipatif dan inklusif untuk semua.
Minggu pagi, tanggal 14 Desember 2025, kerumunan warga dari segala penjuru kota memadati setiap sudut kawasan CFD (Car Free Day) di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Kota Surakarta. Akhir pekan itu sekilas tampak biasa dengan lintasan jalan dihiasi ragam rupa kegiatan yang menyita perhatian. Tetapi, di antara deretan lapak dagangan, pos komunitas, dan ramainya rekreasi yang digelar, terdapat riuh yang berderung tepat di seberang bangunan Loji Gandrung. Rupanya puluhan anak-anak space shapers berbalut jersey biru muda sedang sibuk mencegat warga untuk singgah dan ikut bersenandung dalam kampanye dan aktivasi ruang.
![]()
Sejumlah poster yang dipajang di sekitar lapak lebih dulu menyambut lalu lintas para pejalan. Jika dilihat lebih dekat, karya dari para pembentuk ruang itu menampilkan berbagai seruan yang mengajak warga untuk merefleksikan taman sebagai ruang publik yang ideal. Susunan kalimat seperti “Lingkungan Aman, Anak Nyaman”, “Kita Jaga Taman, Taman Jaga Kita”, "Dengarkan Kami, Lihatlah Kami, yang Hidup dan Lahir dari Kolaborasi", hingga “Aku Ingin Taman Bermain Bebas Polusi, Aman, Rindang, dan Nyaman untuk Semua” tampil dengan torehan warna dan gambar kreasi mereka. Para pengunjung organik pun mulai bersambang diikuti dengan anggukan, seakan sepakat dengan kata-kata yang apa adanya sekaligus menggugah.
Barangkali kejujuran jadi modal terkuat yang menguar dalam suara anak-anak, sedang sisanya adalah ikhtiar untuk melantangkannya. Di sisa rinai gerimis, senyum anak-anak itu tetap menyapa publik dengan manis. Beberapa bergantian menyampaikan ceritanya lewat pelantang suara. Ada yang menyampaikan pesan seruan, juga refleksi dari perjalanan kegiatan, dan bahkan saling berbalas pantun untuk menjaga semangat kampanye warga muda tetap menyala.
Tak hanya itu, mereka juga menjemput setiap langkah yang lewat untuk melipir ke tikar yang tergelar di bawah tenda. Di sana, space shapers berperan sebagai fasilitator sebaya untuk memandu pengunjung bermain papan magnet sebagai simulasi merancang taman ramah anak yang ideal. Aktivasi ini menarik antusias bukan hanya dari kemasan yang menyenangkan, tetapi karena ia memantik dan menghimpun suara anak dan warga yang terabaikan di level tapak.
![]()
Anak-anak adalah subjek prioritas yang memiliki kebutuhan spesifik dalam ruang publik. Suara mereka dapat menghindarkan kekeliruan para aktor perancang kota dan pemerintah ketika menerjemahkan kenyamanan sesuai realitas subjek dalam keseharian. Anak-anak dapat membantu mengungkap kebutuhan nyata yang luput dari perspektif orang dewasa, seperti fasilitas bermain sesuai usia, kebutuhan area teduh, sarana belajar seperti ruang baca, pengolahan sampah yang ramah lingkungan, hingga akses yang mudah untuk anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas agar dapat menunjang aktivitas mereka.
Semarak Suara Anak Mengisi Ruang Advokasi Kebijakan
Membentuk ruang publik bersama anak-anak tentunya memerlukan napas panjang guna memastikan keberlanjutan dari upaya kolektif yang telah tertempuh. Itu sebabnya kampanye tidak berakhir begitu saja, melainkan bersambung ke ruang temu-dengar di Gedung Sekretariat Bersama Kota Surakarta pada Selasa pagi, tanggal 16 Desember 2025.
Para partisipan Surakarta Space Shapers berkumpul kembali untuk berkampanye bersama Respati Ardi, Wali Kota Surakarta, dan saling memperkuat gagasan taman kota yang ideal. Kali ini, proses advokasi dimulai sejak Wali Kota Surakarta memasuki ruangan dan menilik etalase Magnetic Playspace Kit yang telah disusun anak-anak dari lima kelurahan. Setiap purwarupa taman idaman menampilkan elemen-elemen representatif yang mewakili rancangan anak. Di sampingnya, para advokat muda yang didampingi pihak kelurahan tampak aktif menceritakan hasil kurasi taman kelurahan mereka.


Pertemuan dengan Wali Kota pagi itu tampak hangat tanpa sekat; mengisyaratkan perencanaan kota sebagai kepentingan milik bersama. Ruang advokasi warga muda tampil melampaui kerangka normatif. Hal itu diwujudkan lewat pertunjukan alih wahana bertajuk “Sampai Setiap Taman Merangkul Semua”. Perwakilan anak dari Surakarta Space Shapers bertutur cerita selayaknya aktor yang melantunkan konflik hingga koda dengan pawainya. Beberapa momen yang terjadi saat itu masih terawat dalam ingatan, seperti dialog antara Assa, Keyla, dan Diana.
“Setelah berhasil mempertahankan predikat Kota Layak Anak (KLA) utama sejak 2017, kini status Kota Solo justru turun menjadi kategori nindya. Wah sayang banget, apa mungkin ada beberapa aspek yang belum terpenuhi, ya?” Assa memulai kisah dengan penuh penasaran.
“Hmm, aku malah penasaran gimana perasaannya Ayah Respati? Sebagai Wali Kota, ia pasti segera memetakan rencana dan solusinya, kan?” Keyla menanggapi perbincangan warga muda.
“Menurutku juga begitu. Pemerintah Kota Surakarta pasti mengusahakan yang terbaik, bahkan kalau bisa sampai dapat kategori paripurna!” Diana ikut andil menegaskan harapannya.


Opini lembut tentang turunnya kategori KLA sesungguhnya terbit untuk memantik tanggung jawab agar dipikul bersama. Alur pertunjukkan pun terus bergulir, anak-anak saling mengambil peran dalam menceritakan perjalanan mereka sebagai pembentuk ruang; mereka ulang beragam adegan berkesan sepanjang proses pelatihan, lokakarya, hingga akhirnya dirangkum dalam pesan kampanye yang bermakna. Anak-anak juga menyerukan pentingnya inklusivitas dalam perencanaan ruang publik agar hak teman-teman difabel dan kelompok rentan lainnya dipenuhi dan ikut terlibat aktif berkegiatan sosial di ruang publik.
Setelah semua dialog menyoal lika-liku keresahan dalam mengakses taman kota tersampaikan, rupanya anak-anak berinisiatif menyisipkan agenda advokasi dengan menempatkan estafet dialog akhir kepada Wali Kota. Ibarat pepatah “gayung bersambut, kata berjawab,” Respati Ardi antusias menerima ajakan anak-anak space shapers yang menghampirinya dan memberikan tanggapan yang menggugah.
“Kita benahi taman kota dengan menegakkan peraturan yang sudah ada dan menambahkan pertimbangan yang tadi telah disampaikan. Semuanya selaras dengan Asta Cita. Nantinya akan ada satuan tugas yang mengawal penerapan kawasan tanpa rokok, melengkapi fasilitas taman yang memadai untuk semua, juga membatasi internet agar taman menjadi ruang kumpul sosial. Kita akan memberi ruang lebih untuk Forum Anak lebih terlibat dalam proses kebijakan. Nanti bisa segera dimulai lewat undangan Musrenbang. Mari bersama-sama kita wujudkan komitmen Kota Surakarta yang ramah anak agar sesuai doa meraih kategori paripurna.”

Merawat Partisipasi Anak dalam Perancangan Ruang Publik yang Inklusif untuk Semua
Seluruh rangkaian perjalanan Surakarta Space Shapers pada akhirnya hendak mengajak pemerintah dan warga untuk terlibat bersama dalam merawat Kota Layak Anak. Pemenuhan hak anak dalam pembangunan ruang publik sudah semestinya berfokus pada partisipasi yang inklusif: menjamin aksesibilitas, keamanan, sarana untuk kelompok rentan, serta pengelolaan lingkungan yang sehat. Hal ini penting untuk lepas dari formalitas pelibatan subjek anak yang terbatas pada level konsultasi ringan atau bersifat undangan semata penerima manfaat.
Anak-anak perlu dilibatkan secara inklusif dalam setiap tahap kebijakan sehingga tumbuh rasa kepemilikan bersama atas ruang publik secara organik. Selain itu, dari aspek etis dan regulasi, Kota Surakarta sebagai pelopor Kota Layak Anak di Indonesia hendaknya mampu menjadi teladan dengan memastikan dipenuhinya hak anak untuk bersuara dan berpartisipasi di setiap pengambilan keputusan dalam kebijakan menyoal hak anak. Apabila aspek ini dijadikan prioritas, maka kualitas ruang publik di perkotaan akan terus membaik untuk jangka waktu yang panjang.
Demikianlah, Pemerintah Kota Surakarta bersama segenap aktor kota hendaknya makin merangkul anak-anak dan kelompok rentan dalam setiap agenda merancang ruang publik yang inklusif. Ikhtiar yang sejati tidak berhenti pada jargon taman yang ramah anak, tetapi tentang komitmen agar semua taman di kota mampu dirancang dan dikelola bersama seluruh aspirasi warga; dari dekat dan bermakna untuk semua.