Type

blogs

Scope of Work

Civic Education & Empowerment

Issue

Urban Social Forum, Youth CIty Fora, YUP

Youth City Fora Denpasar dalam USF 11: Kolaborasi Menuju Kota Digital yang Inklusif

Kota Kita Contributor
Tue, 09 Dec 2025

3 min read

by Dyana Wulandari, Citizen Scientist for YUP Project ¹

Bagaimana orang muda dapat berpartisipasi dalam menentukan arah masa depan kota? Pertanyaan ini membuka kegiatan Bincang Partisipasi “Menyoal Kota Digital: Waktunya Orang Muda dan Aktor Kota Berkolaborasi Bersama” di hari kedua Urban Social Forum (USF) 11. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Youth City Fora² program YUP dari Kota Kita yang terselenggara pada 31 Agustus 2025 yang lalu di Dharma Negara Alaya (DNA), Denpasar, Bali.

Melalui Youth City Fora, Kota Kita berupaya mendiskusikan hasil temuan riset dan menjembatani kesenjangan yang ada dengan mempertemukan anak muda, pemerintah, dan komunitas dalam ruang dialog yang setara. Bincang partisipasi menjadi wadah untuk mengeksplorasi praktik dan tantangan keterlibatan generasi muda dalam tata kelola kota.

Di era digital, suara orang muda dalam tata kelola kota tak lagi bisa diabaikan. Mereka bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan yang menghadirkan ide, kritik, dan inovasi menuju pembangunan kota yang lebih adil dan berkelanjutan. Sayangnya, kesempatan orang muda untuk terlibat secara bermakna masih sering terbentur minimnya ruang partisipasi yang terbuka dan inklusif. Seluruh kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan percakapan lintas generasi sekaligus memperkuat kolaborasi menuju kota digital yang partisipatif, inklusif, dan berkeadilan.

Menyoal Kota Digital: Waktunya Orang Muda dan Aktor Kota Berkolaborasi Bersama

Narasumber dari berbagai lintas sektor dan perspektif, seperti I Ketut Agus Indra (Kabid Teknologi Komunikasi Diskominfos Kota Denpasar), Bagus Krishnayanaputra (Forum Diskusi Transportasi Bali), Gede Adrian Maha Putra (Penggagas Balinggih), saya sebagai sebagai perwakilan warga peneliti YUP, serta Putri Purnomo (Product Designer Program YUP) selaku moderator.

Saya sepakat bahwa partisipasi anak muda perlu difasilitasi dengan cara yang ramah dan setara, seperti adanya akses yang ramah bagi disabilitas dalam ruang publik, seperti ketersediaan video dan Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk teman tuli di berbagai kegiatan.

Adrian Maha Putra juga melihat peluang kolaborasi lintas aktor kota sebagai hal yang sangat krusial, "Perlu media katalisator yang berkolaborasi dengan pemerintah tanpa label atau anggapan buzzer; murni untuk menyuarakan dan memfasilitasi komunikasi dua arah antar warga," tegasnya."

Tanggapan lain datang dari Bagus Khrisnayana menyoal transportasi umum, "Kalau dari segi pengadaan layanan transportasi, saya dan kawan lainnya sempat melakukan advokasi melalui surat elektronik dan kampanye publik di media sosial, sebelum Trans Metro Dewata (TMD) berhenti," pungkasnya.

I Ketut Agus Indra juga menekankan, "Ini menjadi catatan penting bahwa pemerintah belum cukup berkolaborasi dengan banyak pihak. Kami akan berusaha mengakomodir hal tersebut sebagai masukan." Diskusi ini memperjelas bahwa membangun tata kelola kota digital yang terbuka dan inklusif membutuhkan sinergi semua pihak.

Pameran Riset: Menyemai Suara Muda untuk Kota

Forum diskusi ini juga mengaktivasi berbagai display temuan dalam Pameran Riset bertajuk “Menyemai Suara Muda untuk Kota” yang lebih dulu mengisi sejak hari pertama USF 11. Pameran ini menampilkan hasil riset dan dokumentasi kegiatan selama proses penelitian berlangsung. Selain itu media interaktif seperti daun pesan juga hadir memfasilitasi para pengunjung untuk menuliskan permasalahan kota yang mereka rasakan. Juga terdapat papan interaktif dengan media push pin sebagai penanda hal-hal yang orang muda sukai dari penggunaan media digital ataupun batasan yang mereka hadapi ketika menggunakannya. 

Kehadiran pameran ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan data, tetapi juga menjadi ruang apresiasi bagi kontribusi generasi muda. Proses ini menjadi bagian utuh dalam ko-produksi platform digital sekaligus membangun kesadaran publik tentang pentingnya partisipasi yang inklusif melalui medium advokasi yang tepat agar temuan riset dapat terhubung dengan aksi nyata di lapangan.


Catatan Kaki

1.⁠ ⁠Proyek Co-producing Digital Platforms for Youth Inclusive Urban Governance (YUP) adalah proyek penelitian terkait partisipasi orang muda dalam tata kelola perkotaan melalui platform digital yang diinisiasi oleh University College London (UCL), Kota Kita, Catalytic Action, serta SHM Foundation di Indonesia dan Lebanon.

2. Bagian dari program ‘Ko-produksi Platform Digital untuk Tata Kelola Perkotaan yang Inklusif bagi Orang Muda (YUP), kolaborasi antara Yayasan Kota Kita dan The Bartlett Development Planning Unit – University College London (DPU-UCL) yang dilaksanakan di Solo dan Denpasar.