Type

blogs

“Ora Obah, Ora Sekolah”: Mereproduksi Narasi Kolektif melalui Pembuatan Film Partisipatif di Kampung Ngampon, Solo

Fildzah Husna
Fri, 29 Apr 2022

oleh Fildzah Husna Amalina, Kirana Putri Prastika, Ignacia Ossul-Vermehren

Melalui program Re-Framed, Kota Kita dan Development Planning Unit (DPU) UCL bekerja bersama warga Kampung Ngampon di Solo dalam membangun narasi kolektif melalui keluaran visual. Sebagai fasilitator, Kota Kita telah terlebih dahulu mengikuti pelatihan dan webinar dalam mempraktikkan sesi partisipatif dalam pembuatan film oleh DPU UCL, dan pada Juni–Desember 2021, telah melaksanakan rangkaian diskusi dan lokakarya dalam membuat cerita, mengenal teknis pengambilan gambar, melakukan syuting, hingga penyuntingan.

Berikut adalah catatan dan tim fasilitator Kota Kita dari proses pembuatan film pendek “Ora Obah, Ora Sekolah” yang ditulis, disutradarai, serta disunting bersama warga Kampung Ngampon.

Foto: Kota Kita

 

Membingkai Ulang Narasi Milik Komunitas

Proses pembuatan film pendek “Ora Obah, Ora Sekolah” ini dimulai dengan dua pertanyaan: “mengapa bercerita?” dan “cerita apa yang perlu dibagikan?”. Di awal proses, kami bermaksud untuk mendorong lebih banyak diskusi mengenai peran ‘cerita’ dan seperti apa maknanya bagi warga—serta merefleksikan cerita-cerita yang seperti apa yang mereka ingin bagikan dari pengalaman dan realitas mereka sendiri.

Kampung Ngampon merupakan kampung di Mojosongo, Solo, yang terkenal akan kerajinan sangkar burung dari bambu. Kampung ini memiliki permukiman yang relatif padat yang menjadi tempat tinggal lebih dari 700 penduduk. Sebagian besar warga di kampung ini bekerja sebagai pembuat sangkar burung dan/atau bergantung pada bisnis sangkar burung sebagai mata pencaharian utama mereka.

Sebagai fasilitator, kami melemparkan pertanyaan seperti “apa yang terpikirkan pertama kali ketika mendengar tentang Kampung Ngampon?” dan “apa yang kamu ingin orang lain tahu mengenai kampung ini?” sebagai cara untuk ‘melawan’ stereotip yang ada dan membingkai ulang narasi warga, yang merupakan bagian penting dari proses ini. Sebagian partisipan merasa cerita-cerita yang mengangkat semangat gotong royong dapat menjadi cara yang tepat dalam menceritakan kampung ini melalui solidaritas di antara warganya. Di sisi lain, mereka juga ingin menceritakan kisah yang dapat menjadi contoh baik bagi generasi yang lebih muda dan di saat yang sama juga dapat membuat lebih banyak orang lain tertarik pada kampung ini. Sehingga, proses ini tidak semata mengenai mencari cerita saja, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan kembali hal-hal yang bermakna penting bagi mereka—mulai dari kebersamaan sebagai sebuah komunitas hingga citra mereka sebagai kampung pembuat sangkar burung.

Proses fasilitasi kemudian perlu terbuka bagi setiap individu yang mungkin memiliki bayangan mereka sendiri mengenai apa itu cerita yang baik—dan untuk ‘memilih’ satu cerita dari banyak ide yang muncul bukanlah tugas yang mudah. Kami membagi partisipan menjadi dua kelompok kecil sehingga ada lebih banyak ruang bagi setiap orang untuk mengemukakan ide serta mengeksplorasi kreativitasnya. Kelompok pertama menginginkan cerita yang dapat menunjukkan realitas dalam keseharian di kampung ini melalui tantangan yang dihadapi karakter anak muda, sementara, kelompok yang lain ingin menunjukkan solidaritas kolektif dan kekeluargaan mereka sebagai bagian yang tak terpisahkan dari identitas kampung ini. Namun, ketika didiskusikan bersama, peserta tidak berkompetisi untuk memilih cerita mana yang lebih baik dari cerita yang lain. Dari dua cerita tersebut, warga kemudian secara bersama-sama memprioritaskan, mengompromikan, dan kemudian menyepakati alur cerita yang menggabungkan pesan dan nilai yang ada di kedua cerita tersebut.  

Dalam proses ini, penggunaan ‘cerita’ dapat membantu warga dengan menyediakan lebih banyak ruang bagi mereka untuk menggunakan imajinasi dalam melihat kondisi sekitar—tidak hanya dalam melihat tantangan-tantangan yang ada, tetapi juga harapan dan kemungkinan. Pada akhirnya, cerita yang dibuat oleh warga Ngampon mencerminkan visi dan keinginan mereka untuk menjadi lebih baik, sebagaimana Bagus, karakter utama dalam “Ora Obah, Ora Sekolah”, menggambarkan film ini: “Menurutku, pesan utama dari film ini adalah (untuk) tetap semangat dan jangan mudah putus asa. Pasti ada jalan kalau mau berusaha!”

Foto: Kota Kita

 

Mengeksplorasi Pendekatan Kreatif dalam Memfasilitasi Warga Kampung Ngampon

Dalam proses fasilitasi, tidak hanya warga saja yang belajar dan mendapatkan sesuatu dari prosesnya. Justru, dari proses di Kampung Ngampon, tim fasilitator di Kota Kita mencatat dan merefleksikan banyak hal dari praktik fasilitasi dan apa-apa yang bisa dieksplorasi lebih jauh di kemudian hari.

Penceritaan dan videografi sebagai media dalam membagikan pendapat dan aspirasi dengan cara yang lebih menyenangkan merupakan hal yang baru bagi partisipan yang sebagian besar merupakan pembuat sangkar burung—di luar kiriman media sosial dan status WhatsApp yang biasa mereka buat. Rasa penasaran akan pembuatan film dan ketertarikan untuk mencoba hal baru justru membuat mereka antusias untuk berpartisipasi dan bekontribusi pada dinamika diskusi di kelompok. Keahlian yang dapat langsung dipraktikkan bersama menjadi sesuatu yang menantang bagi partisipan, tetapi juga mengasyikkan, yang kemudian menjadi ‘pengikat’ mereka untuk terus terlibat hingga akhir. Ketika berdiskusi, misalnya saat membuat storyboard, kita bisa langsung membayangkan hasil akhir visualnya, yang dapat membantu mendorong lebih banyak ide-ide yang imajinatif dan kemampuan memvisualisasikan aspirasi mereka—hasil yang akan sulit didapatkan dari metode fasilitasi yang lebih konvensional.

Relasi kuasa dan dinamika antara fasilitator dan partisipan menjadi hal yang dipertimbangkan dan secara tidak langsung direfleksikan bersama selama proses pelatihan hingga syuting. Penggunaan cerita sebagai alat fasilitasi perlu memperhatikan keleluasaan partisipan untuk membentuk, mengubah, dan mengarahkan cerita yang ingin dibuat. Sebagai fasilitator, kami perlu dengan bijak menempatkan diri pada posisi di mana kami memiliki pengaruh untuk menstrukturkan diskusi dan kerangka berpikir warga, tetapi tetap memberi ruang yang nyaman bagi mereka untuk berpartisipasi. Dalam proses ini, fasilitator mengompromikan dan secara intensional menyerahkan beberapa bentuk kontrol untuk memastikan narasi dan cerita yang dibuat dapat terbentuk secara organik sebagai milik bersama.  

 

Tak Hanya tentang Film

Dalam melakukan inisiatif yang partisipatif, penting untuk memastikan hasil dari proses tersebut mampu mencerminkan pesan-pesan kolektif. Melalui proses pembuatan film di Kampung Ngampon, partisipan membentuk cerita bersama-sama, menyusun dialog yang menggambarkan interaksi mereka sehari-hari, berakting dalam film, mengarahkan sudut pengambilan gambar dan merekam video, serta turut terlibat dalam proses penyuntingan film—mereka tidak hanya ‘menjadi bagian’ dari proses pembuatan film, tetapi juga menjadi filmmaker-nya. Sebagai fasilitator, kami menyaksikan bahwa dengan memiliki satu keluaran yang dapat diklaim oleh komunitas sebagai milik mereka menjadi strategi yang nyatanya penting untuk meredefinisi proses partisipatoris sebagai metode yang tidak hanya digunakan sebagai bagian dari pengumpulan data yang konvensional dengan produk yang tidak secara langsung memengaruhi dan menguntungkan bagi komunitas.

Pada akhirnya, proses ini tidak hanya tentang membuat film sebagai produk, tetapi juga menjadi kesempatan belajar. Keseluruhan diskusi selama proses ini membuka banyak ruang bagi warga untuk membentuk narasi mereka sendiri dan mendefinisikan pesan-pesan yang ingin mereka bagikan pada orang lain melalui film. Pelatihan dan praktik yang dilakukan bersama warga Kampung Ngampon juga berdampak dalam membangun kapasitas komunitas, tidak hanya dalam artian keahlian teknis saja, tetapi juga dalam memperkuat kesadaran dan agensi kolektif mereka—sembari, tentu saja, menjadi momen untuk bersenang-senang bersama.

Foto: Kota Kita


Re-Framed merupakan inisiatif riset aksi yang dikoordinasi oleh Dr. Rita Lambert, Dr. Ignacia Ossul-Vermehren dan Alex Macfarlane (Development Planning Unit UCL) dan diimplementasikan di Solo, Indonesia oleh Kota Kita dan di Lima, Peru oleh CENCA. Tujuan riset ini adalah untuk membangun dan memperkuat narasi kolektif melalui pembuatan film dokumenter partisipatif-jarak jauh, dan untuk mengembangkan kerangka kerja yang etis dan praktikal dalam memproduksi keluaran visual bersama komunitas warga berpenghasilan rendah. Inisiatif ini didanai oleh DPU dalam rangka mengembangkan riset pasca-COVID.

The article ‘“When there’s a will, there’s a way!”: Interrogating collective narrative production and participatory documentary making in Solo, Indonesia’ was originally published on DPU UCL's blog. Click here to read the article in English.