Type

blogs

Scope of Work

Strategic Planning & Visioning

Issue

Water Sensitive City, Natural-Based Solutions, Participatory Planning, PolyUrbanWaters

Menuju Randugowang Ramah Air

Bisma Setiyadi
Thu, 15 Jan 2026

7 min read

oleh Bisma Setiyadi dan Novita Rohmana Putri

Hari ini, warga kota hidup dalam ketidakpastian menghadapi pesatnya pertumbuhan perkotaan dan berbagai ancaman lingkungan. Bagi masyarakat di kawasan peri-urban yang memiliki memori kolektif tentang lingkungan yang asri, hijau, dan nyaman, tentu ada keinginan kuat untuk menjaga kualitas lingkungan seperti dulu. Situasi serupa juga dirasakan oleh warga Randugowang, Desa Sariharjo yang seakan berada di sebuah persimpangan; tak ada jalan kembali ke masa lalu, hanya ada langkah maju, menuju komitmen berkelanjutan menjelang masa depan.

Perjalanan mewujudkan Kota Ramah Air telah berlangsung hampir lima tahun di Kabupaten Sleman, khususnya di Desa Sariharjo. Melalui program penelitian PolyUrbanWaters, Kota Kita bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Asosiasi KSM/KPP Sanitasi Seluruh Indonesia (AKSANSI) menggunakan pendekatan perencanaan partisipatif atau participatory planning yang menempatkan warga sebagai bagian penting dari proses perencanaan. 

Saat ini, program memasuki fase implementasi, tahap untuk melihat apakah hasil dari fase riset dan pengembangan dapat diterapkan di lokasi lain dan oleh kelompok warga yang berbeda. Kami meyakini bahwa konsep Kota Ramah Air adalah pendekatan yang relevan untuk menjawab tantangan pembangunan kota saat ini; utamanya jika mengingat fungsi lingkungan dan sumber daya air yang sering kali dikesampingkan.

“Randugowang yang hijau, asri, dan berkelanjutan”

Randugowang, padukuhan di kawasan perkotaan Sleman, tumbuh cepat terdorong oleh perluasan Kota Yogyakarta. Gelombang pertumbuhan urban telah merembet ke sisi utara dan menjangkau wilayah ini. Transformasi yang muncul tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga bersifat struktural dalam pola hidup, konsumsi, dan interaksi masyarakat dengan lingkungannya.

Dahulu, Randugowang didominasi lahan pertanian, penduduknya jarang, dan ketersediaan sumber daya yang sederhana. Meski begitu, wilayah itu kini telah bertransformasi menjadi wilayah dengan kepadatan dan tingkat konsumsi yang tinggi. Perubahan ini menimbulkan tantangan besar, tak terkecuali soal pengelolaan sumber daya air.

Dalam Lokakarya Membangun Visi Bersama, tim PolyUrbanWaters mengajak warga Randugowang untuk membayangkan kemungkinan dan alternatif dengan merumuskan respons terhadap serbaneka tantangan. Sebab warga menyadari bahwa pembangunan kota berjalan cepat dan akan terus berkembang sehingga perlu untuk segera mempersiapkan rencana aksi yang tepat.

“Randugowang yang hijau, asri, dan berkelanjutan.”

Kalimat tersebut muncul dalam proses lokakarya sebagai harapan warga akan Randugowang yang ramah air. Kata-kata yang dikemukakan menjadi cerminan kolektif tentang bagaimana ruang hidup ingin dibangun, dirawat, dan diwariskan.

Lokakarya bertempat di pendopo semi terbuka sekitar kawasan dusun dan berjalan secara bertahap lewat ruang diskusi yang aman dan setara. Dalam prosesnya, warga Randugowang berperan sebagai pengemban pengetahuan lokal tentang wilayahnya; lewat pengalaman hidup sehari-hari, ingatan kolektif, serta praktik pengelolaan lingkungan di level tapak. Kesadaran bahwa lingkungan akan lebih lama dihuni oleh orang muda turut memantik keterlibatan mereka untuk aktif mengambil peran sebagai aktor penting di masa depan.

Warga juga diajak melihat berbagai solusi berbasis alam yang relevan bagi wilayah mereka. Salah satunya melalui kegiatan belajar bersama ke Bumi Langit Institute, di mana warga mengeksplorasi beberapa metode pendekatan. Kegiatan tidak berhenti pada kesepakatan isu-isu prioritas, tetapi juga membangun kesadaran warga akan apa itu perencanaan ramah air dan mendorong partisipasi aktif mereka dalam proses perencanaan.

Mengapa Penting Mengelola Sumber Daya Air Bersama Warga?

Hari pertama lokakarya menjadi titik awal untuk merumuskan pemahaman bersama warga Randugowang. Kegiatan diawali dengan pemaparan konsep perencanaan ramah air (water-sensitive planning) serta alur penyusunan visi. Dalam sesi ini, Tim PolyUrbanWaters menekankan bahwa menjaga sumber daya air merupakan bagian dari tanggung jawab lintas generasi untuk senantiasa menjaga warisan bagi anak cucu di masa mendatang. 

Sesi berikutnya berfokus pada pembahasan proyeksi pengembangan kawasan secara business-as-usual (BAU). Proyeksi ini disusun berdasarkan evaluasi data yang tersedia serta temuan dari lokakarya sebelumnya pada tahap baseline assessment. BAU digunakan sebagai alat untuk memperkirakan perkembangan permukiman dan perubahan tata guna lahan apabila tidak ada intervensi berarti. 

Dalam sesi pleno, peserta bersama-sama mengidentifikasi risiko di masa depan—seperti hilangnya ruang hijau, peningkatan polusi, dan potensi banjir—serta peluang yang mungkin muncul, seperti pengembangan infrastruktur air dan fasilitas lingkungan. Pada sesi ini, suara warga mengemuka dengan kuat, salah satunya terkait keterbatasan akses informasi tentang tata guna lahan. Seorang peserta menyampaikan, “Sulit bagi kami untuk mengakses informasi mengenai penggunaan lahan. Sebenarnya, apa status dan peruntukan lahan di Randugowang?”

Kemudian pada sesi terakhir, peserta dibagi ke dalam empat kelompok tematik untuk mendalami risiko dan potensi dari proyeksi BAU sesuai bidang masing-masing. Metode yang digunakan yakni diskusi dan pemetaan partisipatif. Di ujung hari, seluruh kelompok kembali ke berkumpul dalam sesi pleno untuk mempresentasikan hasil diskusi dan membahas keterkaitan antar tema sebagai satu kesatuan sistem wilayah.

Membayangkan Alternatif Masa Depan

Hari kedua diawali dengan ekskursi lapangan ke Bumi Langit Institute di Imogiri, Kabupaten Bantul—sebuah pusat edukasi permakultur yang mengusung praktik hidup selaras dengan alam. Melalui metode observasi langsung dan pembelajaran berbasis praktik, partisipan mempelajari berbagai solusi ramah air yang berpotensi untuk diadaptasi di Randugowang.

Setelah kunjungan lapangan, kegiatan berlanjut ke sesi refleksi untuk mengaitkan pembelajaran dari Bumi Langit dengan konteks Randugowang. Dalam sesi ini, partisipan menyoroti pentingnya nilai hidup dengan alam, praktik-praktik alternatif, hingga keanekaragaman hayati.

Diskusi banyak berkutat pada praktik teknis yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga, khususnya terkait air dan ruang. “Selama ini kami hanya mengenal Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Di sini kami tahu kalau biogas juga dapat diterapkan atau dikombinasikan.”

“Di Randugowang, perkerasan makin banyak—dibeton dan diaspal. Padahal di sini justru diusahakan tetap natural.”

“Pemanenan air hujan sebenarnya sangat menarik untuk penyiraman tanaman, tetapi di tempat kami, genangan air sering memicu nyamuk yang cukup mengganggu.”

Adapun partisipan yang menyoroti keberadaan beberapa spesies lokal yang mulai jarang ditemui. “Kami melihat ada pohon-pohon yang mulai langka, seperti bligo dan moho. Di sini, pohon-pohon itu masih dirawat dan punya fungsi penting.”

Selepas sesi refleksi, peserta kembali dibagi ke dalam empat kelompok tematik seperti hari pertama. Mula-mula, setiap kelompok merumuskan sebuah kata kunci yang mencerminkan harapan dan nilai utama tentang masa depan Randugowang sesuai topik masing-masing. Kemudian, kelompok diminta mengembangkan gagasan tersebut ke dalam tiga jangka waktu —1 tahun, 5 tahun, dan 20 tahun—sebagai alat untuk menjembatani visi jangka panjang melalui langkah-langkah yang bertahap menuju perubahan. Ide-ide tersebut lanjut divisualisasikan dengan bantuan kartu dan foto, lalu dipresentasikan untuk dibahas bersama dalam sesi pleno.

Bergerak Seirama dalam Visi Bersama

Partisipasi warga berjalan melewati proses yang panjang, intensitasnya tinggi, serta membutuhkan komitmen dari banyak pihak agar keterlibatan warga semakin kuat. Lokakarya partisipatif membuka ruang untuk saling belajar dan membumikan proses pengambilan keputusan dengan berakar pada pengetahuan lokal yang kerap terpinggirkan. Diskusi, refleksi lapangan, dan perumusan visi bersama bukan sekadar alat perencanaan programatik, melainkan upaya untuk mengelola sumber daya milik bersama melalui tanggung jawab kolektif.

Sepanjang proses bersama membangun visi kota ramah air, terdapat dua pembahasan penting sebagai landasan. Pertama, pemetaan risiko dan potensi pembangunan di Randugowang perlu bergerak selaras dengan tata kelola air di masa depan. Kedua, rumusan visi bersama berperan penting untuk memandu warga Randugowang menjaga keberlanjutan lingkungan mereka. 

Demikianlah, mengelola sumber daya air bersama warga hendaknya terbit sebagai upaya untuk merawat relasi antara manusia dengan lingkungannya di setiap masa. Setiap langkah yang tertempuh berupaya untuk mendekatkan diskursus dan praktik bijak mengelola sumber daya air agar terus hidup dalam ingatan, kebiasaan, dan pengalaman sehari-hari warga.

 

 Editor: Rendy Manggalaputra