Type

blogs

Issue

Urban-rural linkages

Melihat Lebih Dekat Pekerja Migran Sirkuler di Sekitar Kita

Fildzah Husna
Thu, 07 Apr 2022

Migrasi sirkuler atau circular migration adalah pindahnya penduduk dari satu tempat asal ke tempat tujuan yang terjadi berkali-kali (berulang). Warga yang disebut sebagai pekerja migran sirkuler biasanya pergi ke kota untuk bekerja, namun tetap menganggap desa sebagai tempat tinggal tetap mereka. Jadi, mereka meninggalkan rumah di desa lebih dari satu hari hingga enam bulan, dan selama periode tersebut tinggal sementara di kota untuk bekerja. Sebagian besar pekerja yang melakukan praktik ‘bolak-balik’ ini didasari pada motivasi untuk mendapatkan tambahan penghasilan di kota, tetapi masih menganggap kekerabatan dan ikatan sosial di desa sebagai hal yang penting sehingga tak sepenuhnya mereka tinggalkan. 

Melalui praktik ini, banyak pekerja migran sirkuler tetap melakukan pekerjaan mereka di desa, misalnya bertani. Ketika ada jeda tanam, mereka bekerja di kota sebagai pekerja di sektor informal. Fenomena ini sangat lazim di kota-kota di Indonesia sejak tahun 1970-an, terutama di wilayah yang memiliki keterkaitan desa-kota yang kuat. Hal yang menarik dari fenomena ini adalah bagaimana pekerja migran sirkuler memiliki lokalitas ganda antara kota tempat bekerja dan desa wilayah asal. Lokalitas ganda tersebut menjadi ciri unik di mana mereka berkontribusi terhadap pengembangan desa, sekaligus juga menghidupkan perekonomian di kota.

Siapa sajakah mereka? 
Praktik migrasi sirkuler seperti ini mudah kita temui di banyak kota dan menjadi bagian penting dalam keberagaman informalitas yang tumbuh. Mengambil contoh di Kota Solo dan sekitarnya, berikut beberapa profil pekerja informal yang merupakan pekerja migran sirkuler yang dapat kita temukan dalam keseharian di kota:

 

Tukang becak dan becaknya

Tukang becak
Sebagian besar tinggal di daerah pedesaan di sekitar Solo, seperti Boyolali dan Karanganyar dan bekerja sebagai petani. Selama tinggal di kota untuk menarik becak selama 3-4 bulan, mereka tinggal di becak mereka atau rumah tinggal sementara yang digunakan bersama.

 

 

Seorang pekerja konstruksiPekerja konstruksi
Sebagian besar berasal dari daerah di sekitar Solo seperti Purwodadi dan masih memiliki pekerjaan sebagai petani di daerah asalnya. Mereka pergi dan tinggal di kota sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Selama di kota, mereka tinggal di bedeng-bedeng di lokasi konstruksi.

 

 

Tumpukan kopi sachet dan piring berisi buburPekerja burjo (Warmindo)
Banyak dari pekerja burjo berasal dari daerah Jawa Barat seperti Kuningan, Ciamis, dan sekitarnya. Setiap 3-4 bulan sekali, mereka berpindah secara bergilir dan diorganisir oleh bos (pemilik) burjo. Selama di kota, mereka tinggal di mes bersama dengan pekerja yang lain.

 

 

Gerobak siomayTukang siomay
Seperti pekerja burjo, sebagian besar tukang siomay di Solo berasal dari Jawa Barat, khususnya kota-kota seperti Cirebon, Tasikmalaya, Ciamis, dan sekitarnya. Selama bekerja di kota, mereka tinggal di kontrakan bersama yang juga berperan sebagai tempat produksi siomay mereka.

 

 

Pedagang bendera dan jajaannya.Pedagang bendera
Biasanya, menjelang perayaan HUT RI, kita menemukan banyak pedagang bendera yang ternyata sebagian besar berasal dari Garut, Jawa Barat. Di desa, banyak dari mereka merupakan penjahit, dan ketika musim tujuhbelasan, pindah sementara ke kota bersama pedagang bendera yang lain.

 

 

Seorang ibu-ibu penjual bungaPenjual bunga
Banyak dari penjual bunga merupakan warga pedesaan di sekitar Solo dan tinggal di kota selama beberapa hari. Selama di kota, banyak dari mereka tinggal di emperan pasar ataupun toko.

 

 

Kenyataannya, praktik ini turut mengekspos tantangan dan kerentanan yang dihadapi pekerja informal. Secara ekonomi, banyak dari pekerja di desa tidak memiliki pendapatan yang mencukupi serta tak memiliki aset sumber daya mereka sendiri. Sementara, di kota, mereka bekerja secara informal, dan agar bisa mengirim lebih banyak uang ke keluarga mereka di desa, mereka hidup dalam ketidaknyamanan untuk menekan pengeluaran. Sebagai warga sementara, banyak dari mereka tidak memiliki tempat tinggal yang layak, ditambah lagi, akses layanan dasar seperti kesehatan pun masih sulit diakses di kota.

Jika melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas, desa dan kota memiliki keterkaitan dan hubungan timbal balik yang erat. Mendiskusikan kota tak bisa dilepaskan dari desa, begitu pula sebaliknya. Kini, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mendorong kota yang lebih inklusif untuk semua dan menjamin hak-hak pekerja migran untuk mendapatkan penghidupan yang layak di kota, serta di saat yang sama, juga memastikan keberlangsungan dan kelestarian desa—baik dari segi lingkungan, sosial, serta perekonomian desa.

Referensi:
The bilocal migrant: Economic drivers of mobility across the rural-urban interface in Central Java, Indonesia