Type
blogs
Scope of Work
Civic Education & Empowerment
Issue
Urban Social Forum, Youth City Fora, YUP
Catatan dari USF 11: Partisipasi Orang Muda dalam Menyusun Masa Depan Kota
Kota Kita Contributor
Tue, 09 Dec 2025
3 min read
by Nira Yustika, Citizen Scientist for YUP Project ¹
Hari pertama penyelenggaraan Urban Social Forum (USF) 11 di Denpasar, Bali menghadirkan panel diskusi yang bertajuk “Kota Sebagai Taman Bermain Kita: Masa Depan Kota dalam Imajinasi Anak Muda.” Diskusi ini tidak hanya menyentuh isu-isu sosial dan lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat perkotaan, tetapi turut menyoroti urgensi keterlibatan anak muda dalam proses perencanaan dan pembangunan kota untuk masa ke depan.
Pada hari Sabtu, 30 Agustus 2025 yang lalu, para peserta dan pembicara panel yang berasal dari berbagai kota di Indonesia, berkumpul dan mendiskusikan posisi orang muda sebagai kelompok yang paling terdampak oleh kebijakan kota, tetapi sering kali kurang diperhitungkan dalam perumusan kebijakan.
Minimnya Pelibatan Orang Muda dalam Agenda Pembangunan Kota
Dinda Mahadewi, salah satu narasumber yang mewakili warga peneliti (citizen scientist) memaparkan hasil penelitian YUP terkait identifikasi enam isu utama di kota, mulai dari kesehatan mental, pendidikan, keamanan, lingkungan, seni budaya, hingga kesempatan kerja dan ekonomi. Ia menyoroti adanya relasi kuasa yang timpang antara orang muda dan pemangku kebijakan yang menghambat partisipasi efektif mereka, khususnya bagi perempuan muda. Dinda menegaskan perlunya respons pemerintah untuk melihat kritik dan aspirasi dari orang muda sebagai bentuk kepedulian yang membangun, bukan mengancam. Bersuara lewat media sosial, misalnya, mulai dipandang sebagai sarana ampuh bagi orang muda untuk menyuarakan pendapat dan aspirasi mereka di tengah keterbatasan ruang fisik dan formal.
Pendapat ini didukung oleh Faris Abqori, warga peneliti YUP dari Solo, yang menyoroti ketidaksiapan pemerintah dalam menangani isu lingkungan seperti banjir rob yang sudah sangat berdampak bagi masyarakat pesisir. Faris juga mengkritik pelibatan orang muda yang sering kali hanya sebatas formalitas tanpa aksi konkret yang berarti. Menurutnya, jika orang muda tidak dilibatkan secara bermakna dalam perencanaan kota, maka potensi bonus demografi yang diharapkan pada tahun 2045 justru dapat berujung gagal.
Dalam proses moderasi diskusi, Rawiyah Salma dari Kota Kita, menegaskan bahwa orang muda adalah penerus masa depan kota, yang harus diberikan ruang dan kesempatan untuk berkontribusi dalam perencanaan pembangunan kota. Sayangnya, dalam praktik di lapangan, orang muda sering ditempatkan di posisi yang minimal dan diremehkan karena dianggap kurang pengalaman. Forum diskusi kemudian sepakat bahwa membangun ruang partisipasi yang inklusif dan berkelanjutan merupakan pekerjaan rumah utama yang harus segera diselesaikan.
Isu Lingkungan dan Ruang Aman di Perkotaan
Selain perkara partisipasi dan aktivisme orang muda, isu lingkungan terutama terkait dampak krisis iklim dan pencemaran lingkungan juga menjadi perhatian utama. Sierra Salsabiela, partisipan dari Urban Citizenship Academy (UCA) Semarang 2024 yang diinisiasi oleh Kota Kita, berbagi pengalamannya saat mengadvokasikan isu banjir rob di Semarang; bahwa perubahan iklim telah merenggut ruang hidup dan mata pencaharian warga pesisir di pantai utara Jawa Tengah.
Partisipan UCA Semarang 2024 lainnya, Alifah Sherlyna, juga menceritakan masalah sosial yang muncul akibat krisis iklim di wilayah pesisir, seperti penumpukan sampah kerang akibat beralihnya profesi masyarakat pesisir ke sektor informal yang kurang terkelola dengan baik. Ia menekankan pentingnya ruang diskusi yang lebih terbuka dan berkelanjutan untuk mengedukasi dan meningkatkan kesadaran ekologi orang muda dan masyarakat luas.
Pada sesi tanya jawab dalam diskusi, audiens bernama Dewi, mengangkat kekhawatirannya soal Bali, yakni terkait hilangnya ruang tradisional "teba” atau kebun belakang yang banyak beralih fungsi menjadi vila pariwisata. Ia menyoroti bahwa dampak perubahan ini bukan hanya menghilangkan ruang fisik, tetapi juga mengancam keberlangsungan tradisi dan pengetahuan budaya, seperti profesi pengrajin gerabah yang terancam hilang. Dewi uga bertanya, bagaimana cara melibatkan orang muda untuk melestarikan budaya lokal di tengah dominasi pragmatisme pariwisata dan terputusnya transfer pengetahuan antargenerasi.
Menjawab hal ini, Dinda Mahadewi berargumen bahwa selama ini pendekatan pelestarian terlalu fokus pada aspek ekonomi pariwisata, sehingga hak atas kota dan budaya bagi orang muda menjadi kurang diperhatikan. Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif yang melibatkan seluruh masyarakat—tidak hanya berkutat pada kelompok yang sudah peduli—agar pelestarian budaya jadi gerakan yang berkelanjutan. Dengan begitu, orang muda dapat terhubung kembali dengan nilai budaya dan lingkungan setempat secara aktif, bukan hanya sekadar formalitas tanpa makna berarti.
Partisipasi Orang Muda: Sebuah Refleksi Bersama
Melalui diskusi panel ini, hambatan struktural dan budaya yang menghalangi keterlibatan anak muda dibahas secara tuntas. Dinda Mahadewi menyoroti relasi kuasa dan hambatan gender sebagai faktor utama yang membatasi ruang partisipasi, terutama bagi perempuan muda. Sementara itu, Faris Abqori, menambahkan faktor budaya sering kali membalut isu penting dalam ketabuan sehingga cenderung tidak dibahas secara terbuka, seperti kasus-kasus kekerasan seksual yang marak terjadi di perkotaan.
Untuk ke depannya, Kirana Putri, staf program dari Kota Kita yang terlibat dalam berbagai isu inklusivitas, menyampaikan bahwa advokasi ruang publik yang aman dan aksesibel juga memerlukan dukungan data dan jejaring kuat agar kebijakan yang inklusif dapat diwujudkan bersama. Menurutnya, partisipasi orang muda dan kelompok rentan dapat ditempuh melalui metode yang inklusif sekaligus kreatif, seperti pemanfaatan alat bantu (lego, peta, dan cerita foto) serta peningkatan kapasitas untuk komunitas difabel.
Secara keseluruhan, seluruh rangkaian diskusi panel berjalan dengan penuh dukungan, para peserta aktif untuk bertanya dan memberikan tanggapan yang saling membangun. Dialog yang bergulir memperlihatkan adanya titik temu yang kuat dari beragam latar belakang. Tampak semangat bersama untuk memperjuangkan ruang yang lebih inklusif, aman, dan ramah bagi orang muda serta kelompok rentan di kota. Forum panel diskusi ini setidaknya berhasil memantik kesepakatan kolektif bahwa partisipasi orang muda dalam pembangunan kota tidak dapat dianggap opsional, melainkan sebuah kebutuhan mutlak demi masa depan kota yang adil dan berkelanjutan.
Catatan Kaki
1. Proyek Co-producing Digital Platforms for Youth Inclusive Urban Governance (YUP) adalah proyek penelitian terkait partisipasi orang muda dalam tata kelola perkotaan melalui platform digital yang diinisiasi oleh University College London (UCL), Kota Kita, Catalytic Action, serta SHM Foundation di Indonesia dan Lebanon.